Langsung ke konten utama

Gelombang Korea yang Membuat Kita Basah Kuyub, Bukan Basah Keceh-keceh

Bagaikan gelombang laut ketika kita surfing di pantai yang membuat badan jadi basah kuyub seluruh tubuh, budaya pop Korea Selatan semakin gencar masuk ke dalam tatanan hidup rakyat Indonesia saat ini. Bukan basah keceh-keceh seperti kita main air di pantai. Ditandai dengan trending twitter indonesia yang tidak pernah luput dari hashtag-hashtag berbau K-pop ataupun K-drama, ditayangkannya drama-drama hits di televisi lokal, dan lapak resmi produk kecantikan korea di mal-mal ataupun e-commerce Indonesia.

Elemen-elemen yang saya sebutkan itu dikenal dengan nama Hallyu atau gelombang korea, yaitu ekspansi global untuk kebudayaan populer korea. Penyebutannya terkenal diawali dengan huruf K, misalnya K-drama,K-pop,K-food, K-beauty. Apa yang membuat Hallyu bisa semeledak sekarang? Mungkin malah bisa saya katakan, menggeser popularitas budaya populer barat menuju ke budaya populer timur.

Studi Kasus

Bagaimana Hallyu bisa masuk ke diri seseorang bisa dilihat dari kisah berikut.

Ijah adalah seorang mahasiswi biasa yang menyukai series drama dan berlangganan Netflix merupakan investasi yang berharga baginya. Di Netflix, dia menemukan drama Crash Landing On You(CLOY) dan Hospital Playlist. Saat menonton CLOY, adegan mengobrol di salah satu gerai makanan sering muncul. Di situ, mereka selalu memesan ayam goreng yang terlihat nikmat sekali saat mereka memakannya. Sampai-sampai Ijah mencari resepnya di Youtube karena penasaran bagaimana rasa ayam goreng tersebut. Tidak lama setelah drama CLOY tamat, muncul parodinya yang viral di twitter.

Setelah CLOY tamat,  Ijah lanjut menonton Hospital Playlist. Bercerita tentang kehidupan sehari-hari para dokter bertugas di rumah dan diiringi dengan soundtrack-soundtrak bagus yang merupakan remake lagu-lagu lama korea. Beberapa penyanyi soundtracknya adalah Joy dari Red Velvet dan Kyuhyun dari Super Junior. Dari drama tersebut Ijah sering melihat para 5 sekawan itu makan bersama. Dan sekali lagi, adegan tersebut menunjukkan betapa enaknya makanan tersebut. Hubungan lebih lengkap bisa dilihat dari diagram di bawah.

Rantai Ekosistem Hallyu


Strategi Marketing Hallyu

Apa yang bisa diambil dari cerita di atas?
  • Kolaborasi antar elemen untuk meningkatkan kesadaran publik
Dari cerita di atas, sudah kelihatan jelas bagaimana setiap elemen mendukung elemen yang lain. Setiap drama memiliki beberapa soundtrack yang memperkenalkan penyanyi korea. Di setiap drama juga selalu ada adegan makan yang menarik perhatian. Dari satu penyanyi, mereka sering berkolaborasi dengan penyanyi lain yang memperluas pengetahuan pendengar tentang musik di korea, tidak hanya kpop saja. Yang saya jelaskan hanyalah sebagian kecil kolaborasi budaya populer mereka. Collaboration over competition for the win.
  •  Media Sosial
Adanya youtube dan twitter berperan penting dalam penyebaran budaya populer korea di Indonesia. Saat ini video musik dan variety show korea semakin mudah ditemukan di Youtube, ditambah dengan subtitle bahasa Inggris. Malah akhir-akhir ini, bahasa Indonesia termasuk subtitle default, selain bahasa inggris, bahasa jepang, dan bahasa china. Bila dibandingkan dengan konten berbahasa Jepang, konten bahasa korea lebih menyentuh masyarakat global.

Sosial media lain yang berperan besar adalah twitter. Ciri khas twitter adalah berbasis teks, kecepatan persebaran dan tinggi dan memiliki trending topic. Ciri khas ini dimanfaatkan para fans untuk update berita dan menaikkan eksposur.  Setiap hari, pasti kata kunci berbau korea selalu muncul di trending topic Indonesia. Misalnya, ketika Siwon dari Super Junior mengirim tweet dengan bahasa Indonesia, seketika nama Siwon menjadi trending topic Indonesia seharian. Contoh lain adalah proyek fans ketika idola kpop mereka berulang tahun dan merilis lagu baru. Mereka akan membuat kesepakatan mengirim hashtag yang sama di jam tertentu. Kemampuan para fans kpop dalam menaikkan suatu tema ini mungkin menjadi lawan berat hashtag pesanan yang diramaikan para buzzer.

 Bagaimana dengan Indonesia?

Jika dibandingkan dengan Korea Selatan, mungkin Indonesia masih ketinggalan. Namun perkembangan budaya populer indonesia menurut saya menuju arah yang positif. Sudah mulai muncul nama-nama Indonesia di panggung internasional seperti Rich Brian dan Stephanie Poetri yang sekarang  aktif di Amerika Serikat. Untuk askpek film, film Dilan dan Gundala ditayangkan di  bioskop Malaysia beberapa waktu yang lalu. Dari segi makanan, Indonesia sudah perlu ditanyakan lagi keberagaman dan kekayaannya. Kemampuan netizen Indonesia tidak kalah dengan netizen luar negeri yang saya yakin bila dibuat strategi yang tepat, ekposur budaya populer Indonesia akan sampai di dunia internasional.

Gelombang korea memang sudah membuat basah kuyub kita, tetapi sebagai orang Indonesia kita jangan mau kalah, kita buat gelombang Indonesia dan memperkenalkan budaya populer kita dengan kolaborasi dan media sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[ Kenapa? Series 01] Kenapa rambut ahjumma di korea mayoritas keriting?

Ahjumma (hangeul: 아줌마) adalah panggilan tante atau bibi dalam bahasa korea. Arti sebenarnya adalah wanita yang menikah. Jadi walaupun masih umur 20, kalau udah nikah, bisa dipanggil ahjumma. Kalau sudah dipanggil ahjumma tuh rasanya sudah berasa tua. Kalian-kalian yang sering nonton drama korea mungkin tahu panggilan ini. Sejak saya datang di Korea dan melihat sekeliling, banyak sekali orang tua di sini. Apalagi kata temen korea saya, Busan sudah disebut kota tua. Gara-gara anak mudanya pada ke Seoul semua. Bagaimana penampakan orang tua, khusunya ahjumma di sini? penampakannya kayak gambar di bawah. Gambar ini merupakan gambaran ahjumma pada tahun 1988. Tahun 2016 pun style rambutnya ternyata tidak berubah, yaitu pendek dan dikeriting. Kenapa? *Gambaran Ahjumma di Korea* source: google  Setelah saya bertanya kepada beberapa narasumber, ada beberapa jawaban yang didapat. Yang pertama menunjukkan kalau dia itu sudah tua dan patut dihormati. Dan seperti emak-emak di Indone...

Dari Komik hingga Pengembangan Diri, Inilah Bacaaan Saya Dari Waktu ke Waktu

Kalau ditanya orang apakah hobi saya, biasanya saya jawab olahraga, nonton drama, dan membaca buku. Yang tetap konsisten dari kecil sampai sekarang adalah membaca. Olahraga sebenarnya oke-oke saja kalau diajak tapi motivasi diri semakin menurut sejak menginjak bangku kuliah. Sedangkan nonton drama baru diseriusi saat bangku kuliah dimana akses internet melimpah.  Setelah saya merenung sambil goler-goler di kasur serta dipicu dengan selesai mendengarkan podcast Raditya Dika tentang komik, saya ingin menelusuri bacaan apa saja yang saya konsumsi yang turut serta membentuk pribadi saya. Dimulai dari jaman TK sampai saat ini.  Masa Kecil Ingatan pertama saya tentang buku adalah komik Dragon Ball yang komiknya masih saya simpan sampai sekarang. Seingat saya, saya rewel pengen dibelikan komik padahal saat itu saya belum bisa baca. Akhirnya setelah dibelikan ya minta tolong dibacakan sambil memperhatikan gambarnya yang bagus. Kejadian ini terjadi saat saya masih TK. Dragon Ball menga...

Jepang, Finally...

Tiga tahun yang lalu, demi memenuhi kelengkapan data, untuk pertama kalinya saya mbolang sendirian ke luar kota. Kota tersebut adalah blitar. Tujuan saya adalah mengumpulkan data dan foto-foto di museum bung karno untuk PKM tim saya yaitu APIUS. Dari situ saya mulai merencanakan rute perjalanan, transportasi yang digunakan, dan lain-lain. Namanya juga pertama kali, saya pasti was-was. Sempat nyasar juga dan harus bertanya sana-sini saat berencana untuk pulang. Mbolang berikutnya adalah di Chengdu, China. Kalo dulu ke luar kota sendiri, ini ke luar negeri sendiri, kota yang baru saja didengar, dan tanpa kenalan di sana. Cerita lengkap bisa dilihat di sini dan sini. Dari situ saya belajar mengatur perjalanan, dari transportasi, penginapan, tempat tujuan, dan biaya yang dikeluarkan. Tepat di hari kemerdekaan tahun ini, alhamdulillah saya mbolang lagi, dan lagi-lagi sendirian, ke negara impian sejak kecil, yaitu Jepang. Tepatnya saya mbolang ke Kyoto dan Osaka. Banyak cerita yang ...