12.24.2016

Jepang, Finally...

Tiga tahun yang lalu, demi memenuhi kelengkapan data, untuk pertama kalinya saya mbolang sendirian ke luar kota. Kota tersebut adalah blitar. Tujuan saya adalah mengumpulkan data dan foto-foto di museum bung karno untuk PKM tim saya yaitu APIUS. Dari situ saya mulai merencanakan rute perjalanan, transportasi yang digunakan, dan lain-lain. Namanya juga pertama kali, saya pasti was-was. Sempat nyasar juga dan harus bertanya sana-sini saat berencana untuk pulang.

Mbolang berikutnya adalah di Chengdu, China. Kalo dulu ke luar kota sendiri, ini ke luar negeri sendiri, kota yang baru saja didengar, dan tanpa kenalan di sana. Cerita lengkap bisa dilihat di sini dan sini. Dari situ saya belajar mengatur perjalanan, dari transportasi, penginapan, tempat tujuan, dan biaya yang dikeluarkan.

Tepat di hari kemerdekaan tahun ini, alhamdulillah saya mbolang lagi, dan lagi-lagi sendirian, ke negara impian sejak kecil, yaitu Jepang. Tepatnya saya mbolang ke Kyoto dan Osaka. Banyak cerita yang didapatkan selain tempat-tempat wisata yang tentu saja menarik dan indah. Tapi proses perjalanan itu sendiri menarik untuk ditulis. Dan saya termasuk orang yang suka mengamati dan menganalisis, sok-sokan kayak detektif-detektif. Gara-gara terlalu banyak baca novel seperti 'Pasukan Mau Tahu' atau 'Lima Sekawan' waktu kecil.

Hari ke-1
Karena tiketnya harga ekonomi, waktu keberangkatan yang tidak strategis harap dimaklumi. Saya baru sampai Kansai Airport sekitar pukul 18.00.
Dari Kansai Airport, saya bergerak menuju Kyoto menggunakan kereta. Jepang terkenal dengan fasilitas keretanya dan jalurnya yang rumit. Ini adalah saat yang mendebarkan bagi saya, Kalo kalian lihat dari foto di bawah ini, Semua pembelian tiket menggunakan mesin dan banyak mesin berjejer-jejer di satu tempat. Untunglah saya sudah bertanya kepada teman dan berguru kepada Google, saya mendapatkan tiket menuju Kyoto.

Masalah berikutnya adalah kereta yang manakah yang harus saya naiki? Ternyata untuk sampai Kyoto ada dua jenis tiket, tiket biasa dan tiket ekspress. Untuk tiket biasa, saya harus transit dulu di Stasiun Osaka dan mencari kereta berikutnya. Karena saya orangnya lebih suka yang praktis, apalagi saat itu sudah menjelang malam. Daripada kesasar di tengah malam saya akhirnya pilih kereta ekspress. Untuk kereta ekspress, saya harus membayar tambahan tiket di tempat.

Setelah sampai Stasiun Kyoto, saya langsung dipertemukan dengan Kyoto Tower yang kelihatannya tidak terlalu tinggi gara-gara gedung-gedung tinggi lainnya di sampingnya.

*Kyoto Tower*

waktunya untuk makan malam. Berdasarkan informasi di website, ada kedai ramen halal di dekat stasiun. Pada saat pencarian, penyakit buta arah saya kampuh. Walaupun sudah menyiapkan berbagai macam petunjuk, tetap saja nyasar dan akhirnya tanya ke penjaga guest house yang saya lewati. Ternyata nyasarnya cukup jauh. Total waktu yang terbuang sekitar 30 menitan untuk mencari restoran halal tersebut.

Nama restoran yang saya kunjungi bernama "Ayam-ya". Namanya indonesia banget yak. Dan disana ternyata ada mbak-mbak Indonesia yang part-time disana. Untuk memesan makanannya, saya harus memesan dan membayarnya terlebih dahulu melalui mesin. Setelah membayar, akan muncul kertas semacam tiket. Kertas tersebut diberikan ke pegawai restoran.


*Penampakan depan kedai ramen "Ayam-ya"

Ada dua jenis ramen yang disediakan, Ramen dan Tsukemen. Ramen itu sama kayak yang sering kita lihat atau kita makan, kalau indonesianya mie kuah. Sedangkan Tsukemen itu dipping ramen. Kuah dan mie terpisah. Jadi kalau makan tsukemen, kita ambil mienya kemudian dicelupkan ke dalam kuahnya yang kental. Saya memilih Tori Ramen untuk santapan pertama saya di Jepang, sedangkan Tsukemen saya coba di hari terakhir saya di Kyoto, sebelum berangkat ke Osaka.

*Tori Ramen*

 *Tsukemen*

Selesai makan, sudah saatnya menuju guesthouse. Saya memilih subway sebagai alat transportasinya. Sampai di stasiun tujuan, saya kembali nyasar untuk menemukan Guesthouse saya, "Kaede Guesthouse". Saya sufah memesannya jauh hari dari booking.com. Waktu sudah memunjukkan 23.00. Waktunya istirahan untuk bangun pagi-pagi sebelum mbolang seharian.

Bersambung...

6.25.2016

Mengapa Baidu dan Naver Lebih Populer Dibanding Google di Negara Mereka?

Semua orang tahu, mesin pencari nomer 1 di dunia adalah Google. Pertama kali didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin. Mereka memiliki proyek riset untuk program Ph.D mereka di Universitas Stanford. Ide pertama dua founders ini adalah bagaimana menentukan peringkat suatu situs di antara berjuta-juta halaman web yang ada di dunia maya. Teknologi tesebut sekarang terkenal dengan nama PageRank. Berawal dari satu ide tersebut, Google berkembang, berkembang, dan berkembang terus hingga mencapai ranah otomotif dengan Google Self Driving Car. Namun, sayap mereka ternyata tidak berkembang lebar di China dan Korea Selatan.

Apa yang menyebabkan Google gagal menguasai China dan Korea Selatan? Alasannya karena dua negara tersebut memiliki mesin pencari yang lebih mereka andalkan daripada Google, yaitu Baidu di China dan Naver di Korea Selatan. Saya tidak akan membahas perbedaannya secara teknis, tetapi lebih ke pendapat dan pengalaman pribadi setelah saya menggunakan kedua mesin pencari tersebut. Untuk alasan teknik, pembaca bisa membaca di artikel ini.

Pertama-tama saya akan membahas Baidu. Perjalanan tiga hari saya di China amat terbantu dengan situs ini. Seperti yang diketahui, segala pelayanan dari Google tidak bisa diakses dari China. Ini adalah bentuk proteksi pemerintah China untuk menyaring informasi dari luar, program ini disebut The Golden Shield Project atau lebih dikenal dengan nama The Great Firewall. Dari satu alasan itu saja sudah terlihat jelas mengapa Google tidak bisa menguasai China. Mesin pencari lain seperti Yahoo juga tidak dapat menandingi kepopuleran Baidu. Baidu menawarkan konten lokal yang lebih update dan terpercaya. Hal itu saya lihat dari rute bus dan kereta di dalam negeri. Baidu Maps menawarkan rute yang lebih baik dan cepat. Itulah pengalaman saya dalam menggunakan Baidu.

Bagaimana dengan Naver-nya Korea Selatan? Sebagai pendatang yang tinggal 1,5 tahun di sini, saya bisa katakan naver itu dapat empat jempol tangan. Walaupun Google masih bisa diakses bebas disini, tetap saja orang Korea hampir selalu menggunakan Naver untuk mencari segala informasi. Menurut saya, konten lokal di Naver jauh lebih kaya dibanding Google. Mungkin disebabkan situs korea memiliki proteksi sehingga Google tidak bisa meng-index situs tersebut.

Saya akan berikan contoh keunggulan Naver dibandingkan Google. Saya akan menggunakan rekomendasi rute lagi sebagai perbandingan karena fitur ini adalah fitur yang paling sering saya gunakan di naver. Saya ingin mencari rute perjalanan dari Busan Station ke Pusan National University menggunakan huruf hangeul. Keduanya menampilkan hasil yang jauh berbeda. Di Google Maps, saya hanya mendapatkan dua rekomendasi rute perjalanan mengunakan transportasi umum. Saya tidak mendapatkan rekomendasi untuk kendaraan pribadi, sepeda, ataupun jalan kaki. Sedangkan Naver memberikan informasi yang lebih dari saya butuhkan. Tersedia informasi rute rekomendasi dari kendaraan pribadi, kendaraan umum, sepeda, dan jalan kaki. Pada rekomendasi kendaraan pribadi, Naver memberikan informasi perkiraan harga yang dibayar apabila menggunakan taksi dan perkiraan harga BBM apabila menggunakan kendaraan pribadi. Setiap petunjuk memiliki gambaran seperti Google Street View dan Live CCTV apabila di jalan tersebut terdapat CCTV. Naver juga memberikan informasi harga total kendaraan umum yang dinaiki untuk ke tempat tujuan. Lengkap sekali bukan?

Itu hanyalah satu dari sekian banyak keunggulan Naver. Fasilitas lainnya diantaranya adalah Naver Translate. Banyak kata-kata atau kalimat bahasa korea yang tidak dapat dikenali di Google Translate. Di Naver Translate juga disediakan contoh kalimat penggunaan kata tersebut. Berasa promosi Naver yak. hehehe

Kedua situs sama seperti Google, diawali dengan penemuan algoritma pencarian atau pengindeksan situs untuk mesin pencarian mereka. Dari satu point, mereka berkembang ke pelayanan-pelayanan yang lain dan fokus dan fokus ke konten lokal.

Bagaimana dengan Indonesia? Untuk saat ini, semua aspek masih dikuasai oleh Google dan anak-anaknya. Bahkan blogger yang saya gunakan ini juga milik Google(atau Alphabet sebagai pemilik sebenarnya). Sepengetahuan saya, karena saya juga jarang buka situs Indonesia, Kaskus memiliki potensi besar untuk berkembang lagi. Tapi poin yang paling penting adalah menemukan algoritma pencarian yang bisa mengindeks situs-situs Indonesia dengan baik. Semoga ada inisiator yang mengawali langkah ini. Yang tahu Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri bukan?

Versi Google Maps
Versi Naver

5.29.2016

Lingkaran Setan Bernama Hallyu

Sebulan terakhir, penyakit saya kambuh lagi. Penyakit yang mulai diderita sejak tahun 2010, kemudian mereda perlahan. Ini bukan penyakit fisik, tapi penyakit mental. Saya terkena serangan Hallyu(Korean Wave) kembali. Berawal dari nonton k-drama merembet kemana-mana. Awal 2010 dulu juga sama kejadiannya, dari satu drama atau variety show korea, merambat ke segala bidang. Kenapa bisa begitu. Mari kita analisis lebih lanjut.

Apabila dikategorikan, dunia entertainment bisa dibagi jadi beberapa bidang:
1. Musik
2. Drama
3. TV Show

Menurut pengamatan saya, entertainment di korea itu satu kesatuan. Berikut contoh yang saya alami sendiri,

Diagram Hubungan Hallyu

Diagram di atas adalah sebagian kecil hubungan antara artis, drama, dan TV Show. Saya berikan contoh bagaimana dari nonton drama Descendant of The Sun(DOTS), bisa nyampe ketemu yang namanya girlband Mamamoo. Di DOTS episode terakhir, Red Velvet muncul sebagai bintang tamu di pangkalan militer. Dari situ saya tertarik red velvet yang ternyata satu perusahaan dengan SNSD. Saya yang memang fans SNSD dari 2010, kembali mencari informasi tentang mereka. Saya menemukan mereka menjadi bintang tamu di Variety Show "Weekly Idol". Salah satu segment Weekly Idol yang menarik adalah "Cover Dance" group lain. Dari "Cover Dance" saya menemukan girl group GFriend. Red Velvet dan GFriend muncul di Variety Show "After School" dengan host Eric Nam, Jimin, dan Kevin. Saya mencari informasi tentang Host acara ini. Ternyata Eric Nam mengeluarkan MV bersama Wendy dari Red Velvet di SM Station dan menjadi salah satu peserta di "We Got Married" dengan Solar dari Mamamoo sebagai pasangannya. Otomatis saya mencari Mamamoo itu siapa karena tidak pernah dengar tentang mereka. Ternyata mereka dengan GFriend pernah melalukan VApp Live bersama. Dan saat ini, saya sedang hectic dengan Mamamoo. 

Seperti negara Asia pada umumnya, hubungan kekeluargaan di Korea juga tinggi selain senioritas di bidang manapun. Oleh sebab itu, hubungan atau kedekatan antar artis juga bisa menjadi faktor popularitas. Dari segmen dance cover di Weekly Idol, para artis diuji kemampuannya seberapa besar mereka tahu tarian group selain mereka. Saya yang melihat itu jadi tertarik dan berujung lompat melompat dari artis satu ke artis yang lain yang membuat saya berada di dalam lingkaran hallyu ini. Untuk berhenti dari hal ini sepertinya saya harus berhenti total mengikuti acara korea di segala bidang. Butuh usaha keras untuk melakukannya.

Sekilas Info:
Kemarin malam(28 Mei) akhirnya ketemu artis di Korea. Saya akhirnya nonton AKMU alias Akdong Musician di Busan (Yeeeey). Dan gratis (Yeeeeeeeeey). Suara mereka kemarin bagus tapi gak sebagus di MV. Kayaknya mereka capek banget dari mana-mana. Plus sound systemnya jelek, jadi gak optimal. Akhirnya kalau ada yang tanya, di korea ketemu siapa, saya bisa jawab =))

Credit By Nisak

4.14.2016

Liburan berkedok konferensi, Chengdu, China (2)

"Is it too late to say sorry?" lirik lagu yang saya kutip dari lagu "sorry" punya Justin Bieber ini untuk pembaca yang ingin tahu cerita jalan-jalan di Chengdu, Desember tahun lalu. Lama amat updatenya? Iya, niat ngeblog baru muncul akhir-akhir ini. Jadi harap maklum.

Melanjutkan postingan saya sebelumnya,  postingan kali ini saya dedikasikan untuk acara jalan-jalan selama satu setengah hari. Sebelum saya berangkat, saya mencari catatan perjalanan ke Chengdu, tapi saya hanya menemukan dua artikel tentang Chengdu dalam bahasa Indonesia. Padahal, Chengdu menarik untuk dijelajahi. Harga-harga sepertinya relatif lebih murah dibandingkan di Beijing atau Shanghai. Di postingan ini saya akan membahas empat poin penting dalam jalan-jalan, yaitu transportasi, penginapan, makanan, dan tempat wisata.

Sertakan peta resolusi tinggi[nyusul]

1. Transportasi
Chengdu memiliki bandara internasional, yaitu Bandara Shuangliu. Namun tidak ada penerbangan langsung dari Indonesia ke Chengdu. Minimal transfer dulu di Beijing. Untuk yang menginginkan pesawat LCC, Air Asia menyediakan penerbangan Indonesia ke Chengdu dengan transit di Kuala Lumpur.

Untuk transportasi dalam kota, ada tiga pilihan sepengetahuan saya, yaitu taksi, bus, dan subway. Taksi lebih fleksibel dalam hal tempat tujuan, tapi hati-hati karena kebanyakan orang China tidak paham bahasa Inggris. Kalau mau aman siapkan alamat dalam huruf mandarin. Pengalaman saya dengan taksi tidak begitu baik karena masalah komunikasi tersebut.

Bus di Chengdu, termasuk bagus, mudah, dan murah. Busnya hampir sama seperti yang di korea. Ongkosnya 2 RMB tiap naik bus. Jangkauan luas, rutenya jelas dan setiap pemberhentian pasti berhenti. Tips untuk kalian-kalian yang tidak bisa bahasa mandarin, info yang diperlukan sebelum naik bus adalah nomer bus, halte keberangkatan, halte tujuan, dan jumlah pemberhentian di antara dua halte tersebut. Info-info terupdate tersebut dapat dilihat di Baidu Maps, karena Google Maps gak bisa diakses dan Bing Maps tidak update.

Opsi yang terakhir dan terbaik adalah menggunakan subway. Apalagi kalau tujuanmu masih dekat dengan jalur subway. Jalurnya hanya ada dua dan hanya berpapasan di Tianfu Square. Harganya 2 RMB tiap kali naik, pemberhentian manapun. Memiliki petunjuk dan pemberhentian dalam bahasa Inggris. Setiap masuk, barang bawaan harus dimasukkan ke dalam X-Ray dulu demi keamanan bersama.

2. Penginapan
Untuk penginapan, ada banyak pilihan dari hostel, guest house, sampai hotel bintang lima. Sebelum berangkat, anda bisa booking terlebih dahulu di situs booking penginapan. Untuk hal ini, saya menggunakan booking.com. Saya menjatuhkan pilihan ke Lazy Bones Guest House karena tempatnya yang dekat dengan stasiun subway dan pusat kota. Chengdu banyak menyediakan guest house untuk turis dari luar negeri. Mereka menyediakan informasi wisata, ruang kumpul bersama, tur wisata, dan lain sebagainya. Tidak usah khawatir yang tidak bisa bahasa mandarin karena pegawainya tentu harus bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Untuk biaya, hampir sama dengan di Indonesia. Saya memilih single room dan harganya sekitar 129 RMB per malam. Kalau mau lebih murah, bisa memilih kamar dormitory. Di sini kalian berbagi kamar dan kamar mandi untuk beberapa orang.

3. Makanan
Bagi saya yang muslim, makanan adalah poin yang sangat perlu diperhatikan. Makanan halal menjadi kekhawatiran utama selain bahasa saat pergi ke Chengdu. Rumah makan dan toko halal banyak tersedia di dekat masjid jami' Chengdu, yaitu Masjid Huacheng. Harganya bervariasi dari yang murah sampai yang mewah. Menunya ditulis dalam bahasa mandarin, tapi jangan khawatir, mereka menyediakan gambar masakannya.

Ciri-ciri makanan di Chengdu adalah panas dan pedas. Di sini terkenal dengan hotpotnya. Dan setiap makanan selalu memiliki bau dan makanan yang khas. Sepertinya ada rempah khas Sichuan di semua makanannya.

4. Tempat Wisata
Chengdu memiliki banyak tempat untuk jalan-jalan. Wisata kebudayaan atau bangunan lebih banyak di dalam kota, sedangkan untuk wisata alam, kebanyakan ada di luar kota dan cukup jauh. Tapi melihat foto-foto di Internet, jauhnya terobati dengan keindahan alamnya.

Pusat kota Chengdu berada di Tianfu Square. Di sana kita menemukan patung Mao, diktator China yang dihormati di China. Di belakang patung Mao, terdapat Museum Sains.Satu blok dari Tianfu Square, kalian bisa beristirahat sejenak di masjid Huacheng. Di malam hari, kalian bisa menikmati pertunjukan Face Changing Opera. Jika ingin membeli oleh-oleh seperti aksesoris, Jianli Street adalah tempat yang cocok untuk mendapatkanya. Research Base of Giant Panda Breeding sangat patut dicoba, melihat panda-panda yang lucuuu banget. Walau kegiatan mereka cuma makan, tidur, dan main.

Sebenarnya masih banyak cerita yang bisa dibagikan, tapi saya sudah terlalu malas melanjutkan. Mungkih bisa dilanjutkan di lain waktu.















4.06.2016

[Kenapa? Series 02] Kenapa orang-orang suka ngeliatin vlogs orang tak dikenal?

Vlogging adalah kepanjangan dari video blogging. Bersumber dari Wikipedia, definisinya seperti ini
Video-Blogging, atau bisa disingkat vlogging (diucapkan Vlogging, bukan V-logging), atau vidblogging, merupakan suatu bentuk kegiatan blogging dengan menggunakan medium video di atas penggunaan teks atau audio sebagai sumber media utama. Berbagai perangkat seperti ponsel berkamera, kamera digital yang bisa merekam video, atau kamera murah yang dilengkapi dengan mikrofon merupakan modal yang mudah untuk melakukan aktivitas video blogging.
Nonton vlog itu kayak nonton kegiatan sehari-harinya orang asing. Kurang kerjaan bukan? Bukannya sama kayak nonton nikahan atau lahiran orang di tv? Tapi kenapa banyak orang yang nonton? Bahkan ada orang yang pekerjaan utamanya vlogging, kayak keluarga shaytard.

Pertanyaan ini bermula dari hobi saya, yaitu nonton youtube. Saya sering menggunakan kata kunci "indonesian food" saat iseng-iseng dan tidak ada video rekomendasi yang menarik. Kenapa? karena saya kangen makan masakan indonesia dan ingin tahu reaksi orang luar kalau makan. Tidak bisa makan dan membuatnya, terpaksalah hanya menonton video orang makannya saja. Nah, berdasarkan alasan saya saja sudah kelihatan kan kalau kurang kerjaan, atau mungkin bisa dibilang rasa ingin tahu yang tidak penting.

Dari kata kunci situ, saya menemukan vlognya Steph Choi, orang campuran jepang-korea yang ketika videonya saya tonton, sedang pertukaran pelajar di Seoul National University. Steph diajak teman indonesianya untuk makan pecel lele sama soto ayam di rumah makan Indonesia. Dia makan dengan nikmat di video itu dan saya hanya menelan ludah melihatnya (mungkin ini alasan yang bikin mukbang bisa populer, buat orang-orang yang suka nontonin orang makan).

Beberapa bulan berlalu, saya cari video tentang makanan indonesia lagi dan menemukan Steph upload video judulnya "Indonesian Food in Indonesia". Melihat judul itu muncul pertanyaan, dia lagi di Indonesia??? Jawabannya adalah iya. Dia akan tinggal di indonesia untuk setahun ke depan. Saya melihat video terbarunya dan menemukan bahwa dia upload video di Indonesia setiap hari. Ditambah lagi tiap video ada bagian makanan indonesia, mengobati rasa kangen saya sama makanan Indonesia walaupun hanya video. Jadi kesimpulannya, kombinasi antara saya kangen masakan indonesia, Steph bikin vlog tiap hari tentang indonesia beserta makanannya, plus reaksinya yang lucu bikin saya subscribe channelnya. Sekian curhatnya. 

Lanjut ke fakta atau opini tentang vlog. Saya menemukan sebuah artikel blog yang judulnya "Why do we watch vlogs?". Sang penulis memiliki pertanyaan yang sama dengan saya. Dari web itu dan beberapa pendapat pribadi saya, alasan orang suka menonton vlogs adalah:
  • Hiburan di kala suntuk
  • Pengetahuan. Pengalaman adalah guru terbaik bukan? lihat pengalaman orang lain juga bisa menambah pengetahuan kita
  • Kepo atau rasa ingin tahu. Seperti saya yang penasaran tentang pendapat bule tentang Indonesia atau tentang tujuan jalan-jalan di Korea.
  • Lebih nyata atau rasional karena memang dari kehidupan sehari-hari
  • Vloggers sering interaksi langsung ke penontonnya dan bisa akrab. Rasa-rasanya seperti sahabat pena lah.
  • Memberi semangat. Karena vloggernya orang yang optimis, kita pun ikutan optimis.
Dari alasan-alasan di atas, seorang vlogger bisa lebih terkenal dari artis yang di tipi-tipi dan bisa dijadikan sebuah profesi hits abad ini. Mau ikutan vlogging juga? silakan. Untuk saya, blogging sudah cukup. Tujuannya sama, buat curhat :D
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...