1.10.2018

My Velvet K-Pop Playlist



Ceritanya hari ini ada 32th Golden Globe Award di Korea sana dan IU dapet Digital Daesang Award, dan berlanjut dengerin lagunya yang Through The Night. Adem hati ini. Untuk itu saya ingin mengeshare lagu KPOP favorit yang menenangkan hati atau bikin galau(?). Postingan singkat saja gak pake alasan. Keterangannya menunggu mood datang saja.

  • IU - Through  The Night

  • Lee Hi - Breathe

  • Heize - You, Clouds, Rain


  • BTOB - Missing You

    • Zion T. - Yanghwa Bridge

    • Taeyeon - 11:11

    • Red Velvet - Take It Slow

    • Kyuhyun - A Million Pieces

    • Wendy - Because I Love You

    • IU - Autumn Morning

    • BTS - Spring Day

    • Jonghyun, Taeyeon - Lonely
    • Roy Kim - Bom Bom Bom
    • Epik High (Ft. Lee Hi) - Can You Hear My Heart

    • Busker Busker - Cherry Blossom Ending
     
    • Jeong Eunji - Hopefully Sky


    BONUS:
    Titanic - My Heart Will Go On (By Big Marvel)




    10.15.2017

    Jepang, Finally... (Hari ke-2)

    Lanjutan postingan yang sudah luamaaaaaa, yaitu solo traveling saya ke Jepang, tepatnya Kyoto(ft. Osaka) setahun yang lalu. Pengen ditulis aja, mumpung masih inget pengalaman-pengalamannya sebelum lupa.

    Arashiyama
    Destinasi pertama yang saya kunjungi ada Arashiyama yang terkenal dengan hutan bambunya. Kalau anda sering membaca manga atau menonton anime tema sekolah, biasanya tempat ini dijadikan salah satu destinasi wisata sekolah, contohnya Oregairu.

    *salah satu scene di Oregairu, backgroundnya bagus kan?*

    Saya berangkat menggunakan bus kota, menggunakan fasilitas tiket terusan seharian seharga 500 Yen. Tiket ini saya beli di vending machine depan Stasiun Kyoto. Perjalanan penggunaan bus adalah transportasi terhemat untuk jalan-jalan di Kyoto, menurut saya. Namun ada satu yang menantang dalam mengendarai ini, yaitu rute perjalanannya, mbulet. Jadi sebelum nyampek di Kyoto, usahakan sudah memahami peta dan sistem kerjanya. Untuk panduannya, bisa didownload di sini.


    *pemandangan setelah turun dari halte bus*

    Sampai di Arashiyama, saya menikmati pemandangan sungai dan jembatan dibawah bukit-bukit hijau yang rindang. Ini kalau musim gugur pasti bagus banget warnanya. Sambil merasakan suasana musim panas di Arashiyama, saya mencari dimanakah hutan bambu berada. Setelah sempat salah belok, saya akhirnya menemukan hutan tersebut. Beruntung waktu itu masih pagi, pengunjungnya masih sepi. saya bisa dapet foto-foto tanpa orang walau skill jepret saya itu amatiran.

    Di Arashiyama, terdapat beberapa spot yang bisa dikunjungi, ada Monkey Park, Bamboo Groove, ada shrine kecil, temple, dkk. Memasuki kawasan Bamboo Groove, suasana tonggeret menggema di seluruh hutan. Saya ketemu mas-mas kekar penarik becak beserta bejaknya yang disebut jinrikisha, kemudian juga terdapat perlintasan kereta api di dalam Bamboo Groove tersebut, berasa kayak di drama-drama jepang gitu deh. Saya memutar-mutar kawasan tersebut kurang lebih 3 jam, dari jam 9-12an. Itu jalan terus.


    *Jinrikisha*

    *kereta di perlintasan*

    Capek berjalan, waktunya jajan dan cari makan. Saya sudah googling-googling tentang makanan halal di Arashiyama. Dan saya menemukan ice cream matcha halal + kroket kentang halal. Alhamdulillah. Nama tokonya Yoshiya

    *Jajan-jajan di Arashiyama*

    Ada satu kejadian yang kurang menyenangkan disini. Saya liburan ke Jepang bermodalkan pinjaman tongsis dan kacamata hitam dari Lena. Berhubung saya itu amatiran dalam hal potret-memotret, terutama foto selfie pake tongsis, hasilnya tidak terlalu memuaskan. Salah satu faktor yang lain adalah aplikasi VSCO. Entah kenapa, aplikasi ini ngasih default face overlay di wajah. Alhasil foto yang bagus ini kan mau dikasih tambahan wajah saya.


    Hasilnya jadi begini. ㅠㅠ ㅠㅠ ㅠㅠ 
    Dan bunderan itu gak bisa dihapus. ㅠㅠ ㅠㅠ ㅠㅠ


    Ginkakikuji
    Selepas dari Arashiyama, saya bertolak ke destinasi selanjutnya, yang rencana sebenarnya adalah Kinkakuji, tetapi setelah sampai malah berada di Ginkakuji. Ringkas ceritanya saya salah naik bus.
    Ginkakuji adalah salah satu Zen Temple di Kyoto. Kalo baca dari wikipedia, yang bikin adalah cucu dari Kinkaji.
    Dari halte bus menuju tempat ini jalannya naik ke atas, terdapat beberapa toko yang menjual aksesoris dan oleh-oleh.
    *kelinci berkimono*


    * pemandangan dari tempat paling atas*

    Heian Shrine
    Sebenarnya saya tidak ada ke sini. tapi berhubung saya sudah kelewatan satu destinasi, tidak ada salahnya kesini karena kebetulan lewat jalan pulang. Perlu diketahui bahwa Kyoto ini punya sekitar 1600 kuil jadi bisa dikatakan sedikit-sedikit ketemu kuil.

    Kyoto International Manga Museum
    Manga adalah salah satu budaya modern milik jepang yang sudah mendunia. Sebagai penggemar manga tentu berkunjung ke Manga Museum adalah hal yang wajib. terdapat 3 lantai. Di lantai pertama kita bisa menjumpai barang-barang aksesori anime manga yang terkenal di dunia, mangaka booth, manga terjemahan dengan berbagai macam bahasa. Di lantai dua dan tiga saya lihat cuma sekilas, isinya manga semua, sayangnya bahasanya jepang semua. hiks. surga banget buat yang hobi baca manga. Tidak hanya menyediakan manga, terdapat juga galeri dan ruang riset tentang manga di gedung ini.

    Sayangnya saya datang 30 menit sebelum museumnya tutup, dan karena itu saya tidak perlu membayar tiket masuk. Alhamdulillah. Dari museum ini, saya kembali ke guest house untuk istirahat dan makan malam sebentar.



    Yasaka Shrine dan Gion
    ISHOMA saya sudah saya laksanakan semua, waktunya jalan-jalan malam. Tujuannya tidak terlalu jauh dari guest house walaupun harus naik bus jug, yaitu Yasaka Shrine dan Gion. Awalnya saya tidak tahu tentang Shrine ini, niat saya cuma mengunjungi salah satu shrine di sekitar Gion. Begitu turun dari bus, Shrine ini terang benderang. memanggil-manggil untuk ditelusuri. Haha

    Di dalam gelap sekali, yang paling terang adalah kumpulan lampion-lampion yang berada di tengah-tengah kuil. Saya mulai berkeliling di tempat ini. Ternyata tempat ini berkumpulnya kuil-kuil kecil. Sepertinya setiap kuil itu merupakan tempat bersemayam satu dewa. Berhubung dewa di Jepang banyak, maka kuilnya pun juga banyak. Jalan setapak di sini hanya diterangi lampu jalan redup dan lampion kuil kecil. Saya jalan-jalan sendirian seperti sedang uji nyali pas pramuka.

    *Gerbang Depan Kuil*

    *Lampion di Pusat Kuil*


    Dari Yasaka Shrine, saya berjalan menuju Gion. Gion ini adalah kawasan tempat tinggal Geisha, wanita penghibur yang professional. Mereka dapat memainkan alat musik tradisional, menari, dan menyanyi. Dan untuk menjadi sebuah Geisha, mereka dilatih sejak kecil. Kawasan Gion ini dirawat oleh pemerintah Kyoto supaya tetap menghadirkan suasana tradisional di tengah kota Kyoto. Disini juga sama sepinya seperti di Yasaka Shrine, tapi paling tidak yang tinggal di sini adalah manusia. Hahaha


    Demikian mbolak versi anak ilang milik saya untuk hari kedua. Hari ketiga dan Keempat akan saya ceritakan di posting berikutnnya yang tidak tahu kapan bakal ditulis.




    7.22.2017

    Babak Berikutnya Pun Telah Dimulai

    Lima bulan sejak saya kembali ke Indonesia dari Busan, kini saya kembali merantau di Surabaya, untuk bekerja. Sudah sekitar satu bulan saya bekerja sebagai Database Administrator di PT. Collaborative Excellence. Memulai karir pekerjaan saya sesuai yang saya rencanakan, yaitu tidak di jakarta, berhubungan dengan otak-atik data, dan bukan dosen.

    Berdasarkan kriteria tersebut, sudah terlihat saya orangnya itu selektif. Sebenarnya dari dulu sih. Saya ngotot pengen masuk SMA 1 Malang gara-gara tim basketnya yang bagus. Saat itu tim ceweknya dengan skuad mbak ruby dkk bisa meraih runner up di DBL.
    Kemudian pemilihan jurusan kuliah juga pokoknya informatika, untung saya lebih fleksibel untuk kampusnya, tidak harus UGM.
     
    Kembali ke kriteria-kriteria untuk pekerjaan saya, ada tiga poin. Pertama tidak di Jakarta, gara-gara kondisi Jakarta yang macet dan sumpek, tidak baik untuk kesehatan fisik dan mental. Alasan lainnya juga cari kerjaan yang deket rumah saja, biar sering pulangnya. Waktunya tobat gak kluyuran kemana-mana setelah ditinggal dua tahun ke Korea.

    Kriteria kedua adalah berhubungan dengan data. Berhubung saya tidak terlalu jago dalam koding-mengoding, dan ketertarikan saya dengan data sudah terlihat sejak mengerjakan TA saya tentang migrasi data dan kuliah S2 saya di Big Data, adalah hal yang wajar untuk mendapatkan pekerjaan sesuai minat dan pengalaman saya.

    Kriteria ketiga adalah bukan jadi dosen. Rata-rata pertanyaan yang diarahkan ke saya ketika saya masih menganggur adalah "Gak pengen jadi dosen?". Jawaban sebenernya adalah tidak. Tapi saya tidak mau mematenkan jawaban itu karena tidak tahu hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Alasan utamanya adalah saya ingin medapat pengalaman dalam praktisi ilmu saya, tidak sekadar teori saja. Agar nantinya, kalaupun saya menjadi dosen di masa datang, saya punya pengalaman yang bisa saya bagi. Dan saya masih perlu latihan lagi untuk berbicara di depan umum

    Saat ini saya sedang menggarap proyek Business Intelligence salah satu perusahaan snack di Malaysia, spesifiknya adalah mengoptimasi sistemnya dari segi data, seperti skema dan proses pengolahan data. Ini merupakan tugas yang menarik dan saya menunggu-nunggu proyek-proyek menarik berikutnya.

    Babak bekerja saya telah dimulai, dan saya tentu perlu berinstropeksi diri dan membuat rencana supaya hidup saya lebih terarah dan bermakna. Satu rencana yang ingin saya buat adalah konsisten untuk menulis di blog ini. Karena dengan menulis, otak akan terus terstimulasi untuk berpikir dan membaca sumber-sumber terpercaya lain supaya tulisan kita lebih berbobot. Semoga rencana satu ini bisa berjalan lancar diikuti rencana-rencana berikutnya dengan ijin Allah swt. Amin.


    12.24.2016

    Jepang, Finally...

    Tiga tahun yang lalu, demi memenuhi kelengkapan data, untuk pertama kalinya saya mbolang sendirian ke luar kota. Kota tersebut adalah blitar. Tujuan saya adalah mengumpulkan data dan foto-foto di museum bung karno untuk PKM tim saya yaitu APIUS. Dari situ saya mulai merencanakan rute perjalanan, transportasi yang digunakan, dan lain-lain. Namanya juga pertama kali, saya pasti was-was. Sempat nyasar juga dan harus bertanya sana-sini saat berencana untuk pulang.

    Mbolang berikutnya adalah di Chengdu, China. Kalo dulu ke luar kota sendiri, ini ke luar negeri sendiri, kota yang baru saja didengar, dan tanpa kenalan di sana. Cerita lengkap bisa dilihat di sini dan sini. Dari situ saya belajar mengatur perjalanan, dari transportasi, penginapan, tempat tujuan, dan biaya yang dikeluarkan.

    Tepat di hari kemerdekaan tahun ini, alhamdulillah saya mbolang lagi, dan lagi-lagi sendirian, ke negara impian sejak kecil, yaitu Jepang. Tepatnya saya mbolang ke Kyoto dan Osaka. Banyak cerita yang didapatkan selain tempat-tempat wisata yang tentu saja menarik dan indah. Tapi proses perjalanan itu sendiri menarik untuk ditulis. Dan saya termasuk orang yang suka mengamati dan menganalisis, sok-sokan kayak detektif-detektif. Gara-gara terlalu banyak baca novel seperti 'Pasukan Mau Tahu' atau 'Lima Sekawan' waktu kecil.

    Hari ke-1
    Karena tiketnya harga ekonomi, waktu keberangkatan yang tidak strategis harap dimaklumi. Saya baru sampai Kansai Airport sekitar pukul 18.00.
    Dari Kansai Airport, saya bergerak menuju Kyoto menggunakan kereta. Jepang terkenal dengan fasilitas keretanya dan jalurnya yang rumit. Ini adalah saat yang mendebarkan bagi saya, Kalo kalian lihat dari foto di bawah ini, Semua pembelian tiket menggunakan mesin dan banyak mesin berjejer-jejer di satu tempat. Untunglah saya sudah bertanya kepada teman dan berguru kepada Google, saya mendapatkan tiket menuju Kyoto.

    Masalah berikutnya adalah kereta yang manakah yang harus saya naiki? Ternyata untuk sampai Kyoto ada dua jenis tiket, tiket biasa dan tiket ekspress. Untuk tiket biasa, saya harus transit dulu di Stasiun Osaka dan mencari kereta berikutnya. Karena saya orangnya lebih suka yang praktis, apalagi saat itu sudah menjelang malam. Daripada kesasar di tengah malam saya akhirnya pilih kereta ekspress. Untuk kereta ekspress, saya harus membayar tambahan tiket di tempat.

    Setelah sampai Stasiun Kyoto, saya langsung dipertemukan dengan Kyoto Tower yang kelihatannya tidak terlalu tinggi gara-gara gedung-gedung tinggi lainnya di sampingnya.

    *Kyoto Tower*

    waktunya untuk makan malam. Berdasarkan informasi di website, ada kedai ramen halal di dekat stasiun. Pada saat pencarian, penyakit buta arah saya kampuh. Walaupun sudah menyiapkan berbagai macam petunjuk, tetap saja nyasar dan akhirnya tanya ke penjaga guest house yang saya lewati. Ternyata nyasarnya cukup jauh. Total waktu yang terbuang sekitar 30 menitan untuk mencari restoran halal tersebut.

    Nama restoran yang saya kunjungi bernama "Ayam-ya". Namanya indonesia banget yak. Dan disana ternyata ada mbak-mbak Indonesia yang part-time disana. Untuk memesan makanannya, saya harus memesan dan membayarnya terlebih dahulu melalui mesin. Setelah membayar, akan muncul kertas semacam tiket. Kertas tersebut diberikan ke pegawai restoran.


    *Penampakan depan kedai ramen "Ayam-ya"

    Ada dua jenis ramen yang disediakan, Ramen dan Tsukemen. Ramen itu sama kayak yang sering kita lihat atau kita makan, kalau indonesianya mie kuah. Sedangkan Tsukemen itu dipping ramen. Kuah dan mie terpisah. Jadi kalau makan tsukemen, kita ambil mienya kemudian dicelupkan ke dalam kuahnya yang kental. Saya memilih Tori Ramen untuk santapan pertama saya di Jepang, sedangkan Tsukemen saya coba di hari terakhir saya di Kyoto, sebelum berangkat ke Osaka.

    *Tori Ramen*

     *Tsukemen*

    Selesai makan, sudah saatnya menuju guesthouse. Saya memilih subway sebagai alat transportasinya. Sampai di stasiun tujuan, saya kembali nyasar untuk menemukan Guesthouse saya, "Kaede Guesthouse". Saya sufah memesannya jauh hari dari booking.com. Waktu sudah memunjukkan 23.00. Waktunya istirahan untuk bangun pagi-pagi sebelum mbolang seharian.

    Bersambung...

    6.25.2016

    Mengapa Baidu dan Naver Lebih Populer Dibanding Google di Negara Mereka?

    Semua orang tahu, mesin pencari nomer 1 di dunia adalah Google. Pertama kali didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin. Mereka memiliki proyek riset untuk program Ph.D mereka di Universitas Stanford. Ide pertama dua founders ini adalah bagaimana menentukan peringkat suatu situs di antara berjuta-juta halaman web yang ada di dunia maya. Teknologi tesebut sekarang terkenal dengan nama PageRank. Berawal dari satu ide tersebut, Google berkembang, berkembang, dan berkembang terus hingga mencapai ranah otomotif dengan Google Self Driving Car. Namun, sayap mereka ternyata tidak berkembang lebar di China dan Korea Selatan.

    Apa yang menyebabkan Google gagal menguasai China dan Korea Selatan? Alasannya karena dua negara tersebut memiliki mesin pencari yang lebih mereka andalkan daripada Google, yaitu Baidu di China dan Naver di Korea Selatan. Saya tidak akan membahas perbedaannya secara teknis, tetapi lebih ke pendapat dan pengalaman pribadi setelah saya menggunakan kedua mesin pencari tersebut. Untuk alasan teknik, pembaca bisa membaca di artikel ini.

    Pertama-tama saya akan membahas Baidu. Perjalanan tiga hari saya di China amat terbantu dengan situs ini. Seperti yang diketahui, segala pelayanan dari Google tidak bisa diakses dari China. Ini adalah bentuk proteksi pemerintah China untuk menyaring informasi dari luar, program ini disebut The Golden Shield Project atau lebih dikenal dengan nama The Great Firewall. Dari satu alasan itu saja sudah terlihat jelas mengapa Google tidak bisa menguasai China. Mesin pencari lain seperti Yahoo juga tidak dapat menandingi kepopuleran Baidu. Baidu menawarkan konten lokal yang lebih update dan terpercaya. Hal itu saya lihat dari rute bus dan kereta di dalam negeri. Baidu Maps menawarkan rute yang lebih baik dan cepat. Itulah pengalaman saya dalam menggunakan Baidu.

    Bagaimana dengan Naver-nya Korea Selatan? Sebagai pendatang yang tinggal 1,5 tahun di sini, saya bisa katakan naver itu dapat empat jempol tangan. Walaupun Google masih bisa diakses bebas disini, tetap saja orang Korea hampir selalu menggunakan Naver untuk mencari segala informasi. Menurut saya, konten lokal di Naver jauh lebih kaya dibanding Google. Mungkin disebabkan situs korea memiliki proteksi sehingga Google tidak bisa meng-index situs tersebut.

    Saya akan berikan contoh keunggulan Naver dibandingkan Google. Saya akan menggunakan rekomendasi rute lagi sebagai perbandingan karena fitur ini adalah fitur yang paling sering saya gunakan di naver. Saya ingin mencari rute perjalanan dari Busan Station ke Pusan National University menggunakan huruf hangeul. Keduanya menampilkan hasil yang jauh berbeda. Di Google Maps, saya hanya mendapatkan dua rekomendasi rute perjalanan mengunakan transportasi umum. Saya tidak mendapatkan rekomendasi untuk kendaraan pribadi, sepeda, ataupun jalan kaki. Sedangkan Naver memberikan informasi yang lebih dari saya butuhkan. Tersedia informasi rute rekomendasi dari kendaraan pribadi, kendaraan umum, sepeda, dan jalan kaki. Pada rekomendasi kendaraan pribadi, Naver memberikan informasi perkiraan harga yang dibayar apabila menggunakan taksi dan perkiraan harga BBM apabila menggunakan kendaraan pribadi. Setiap petunjuk memiliki gambaran seperti Google Street View dan Live CCTV apabila di jalan tersebut terdapat CCTV. Naver juga memberikan informasi harga total kendaraan umum yang dinaiki untuk ke tempat tujuan. Lengkap sekali bukan?

    Itu hanyalah satu dari sekian banyak keunggulan Naver. Fasilitas lainnya diantaranya adalah Naver Translate. Banyak kata-kata atau kalimat bahasa korea yang tidak dapat dikenali di Google Translate. Di Naver Translate juga disediakan contoh kalimat penggunaan kata tersebut. Berasa promosi Naver yak. hehehe

    Kedua situs sama seperti Google, diawali dengan penemuan algoritma pencarian atau pengindeksan situs untuk mesin pencarian mereka. Dari satu point, mereka berkembang ke pelayanan-pelayanan yang lain dan fokus dan fokus ke konten lokal.

    Bagaimana dengan Indonesia? Untuk saat ini, semua aspek masih dikuasai oleh Google dan anak-anaknya. Bahkan blogger yang saya gunakan ini juga milik Google(atau Alphabet sebagai pemilik sebenarnya). Sepengetahuan saya, karena saya juga jarang buka situs Indonesia, Kaskus memiliki potensi besar untuk berkembang lagi. Tapi poin yang paling penting adalah menemukan algoritma pencarian yang bisa mengindeks situs-situs Indonesia dengan baik. Semoga ada inisiator yang mengawali langkah ini. Yang tahu Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri bukan?

    Versi Google Maps
    Versi Naver

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...